Memilih Hari Baik Pernikahan di Mata Generasi Sekarang
Oleh: Iqbal Wahyu Purwito, Paguyuban Metri Budaya Jawa "MELATHI" Surakarta
Bulan Oktober dan November 2011 memang masih “jauh” (saya menuangkan tulisan ini awal Maret 2011). Alhamdulillah, “order” menjadi pambiwara (master of ceremony) resepsi pernikahan yang saya terima sudah mampu mengejar “omzet” istri saya yang dalam bulan-bulan dekat ini mendapat kucuran rizki Allah terkait sambilan bisnis salon kecantikannya sebagai perias pengantin.
Meski demikian, saya sedikit tercenung ketika menerima tiga “order” pada pertengahan Februari 2011 lalu. Secara waktu pelaksanaan sebenarnya masih cukup “jauh”, namun ternyata mereka memilih waktu yang sama persis. Ada tiga calon mempelai yang meminta saya untuk menjadi pambiwara pada tanggal 9 Oktober 2011. Meski datangnya tidak bersamaan, mereka punya jadwal rencana pernikahan serupa: resepsi pada tanggal tersebut dan pelaksanaan ijab qobul pada pukul 08.00 WIB. Alasannya pun sangat simple: selain jatuh pada hari libur (Minggu), juga biar mudah diingat karena angkanya berurutan. Yakni ijab pukul 8 pagi, pernikahan pada 9-10-’11. “Sehingga jika ditulis menjadi: 8,9,10,11, kan istimewa ?” Begitu kurang lebih jawaban mereka. Hmm…, boleh juga kejelian anak generasi sekarang ini.
Order pertama saya terima, karena memang belum ada jadwal pada tanggal tersebut. Namun ketika datang calon mempelai yang lain dan dengan alasan yang sama, saya pun terkesiap. Beruntung calon mempelai kedua ini mau menerima “saran” saya agar dilaksanakan pada malam hari (hehehe…, bukti “keserakahan” saya mengalihkan waktu, ini tentunya sangat tidak pantas dicontoh lantaran tak sesuai permintaan calon mempelai, meski secara marketing bagi saya tepat…). Pada dasarnya, semua hari itu baik untuk melakukan aktivitas apa saja dan acara apa saja. Yang kurang baik pada dasarnya hanya momentum yang kurang pas. Misalnya, acara dihelat pada hari kerja dan jam kerja sehingga tamu yang hadir sedikit. Jadi, sebenarnya semua hari yang telah diciptakan Allah SWT itu baik, dan tentunya ada berkah serta rizki. Bagi umat Islam, beberapa kalangan memilih menggelar pernikahan pada bulan Syawwal. Alasannya, Rasulllah SAW telah menikahi beberapa dari istri beliau pada bulan yang sama, yaitu jatuh pada bulan Syawal. Salah satunya adalah Aisyah binti Abu Bakar RA. (*)
Istilah Pawiwahan dan Pahargyan,Masih Banyak Yang Keliru Menafsirkan
Oleh: Iqbal Wahyu Purwito, Pengurus Paguyuban Metri Budaya Jawa Melathi Surakarta
DALAM acara kumbokarnan (pertemuan para panitia dalam persiapan resepsi perkawinan dengan tatacara adat Jawa ), sang sekretaris membagikan salinan para kridha darma (panitia) beserta rundown-nya sekaligus. Kemudian sang pangarsa (ketua panitia) pun membacakan isi salinan tersebut. Pertanyaan dan saran segera bergulir dari para undangan acara kumbokarnan yang namanya tercantum sebagai panitia. Materi pembicaraan terkait soal teknis pelaksanaan, mulai acara, persiapan konsumsi dan perkiraan tamu, dan sebagainya.
Ada yang menggelitik hati ini sebenarnya ketika saya juga hadir dalam acara tersebut (kebetulan saya didhapuk menjadi panitia untuk atur pambageharja). Namun hanya saya simpan dalam hati dan tidak saya gulirkan di hadapan forum, lantaran tidak terkait persoalan teknis pelaksanaan maupun rundown yang sudah lumayan sempurna. Meski demikian, jika nantinya salinan tersebut ada revisi dan akan diperbanyak kembali untuk dibagikan lagi kepada panitia, pasti saya akan membisiki sang panitera (sekretaris panitia).
Apa sih yang membuat hati ini tergelitik? Tak lain adalah judul rencana penyelenggaraan resepsi tersebut. Dalam judul rantaman itu terdapat kata “pawiwahan” dhauping pengantin. Padahal, kalau melihat rundown-nya, jelas nantinya sang mempelai tidak mengenakan busana basahan, karena pengantin putrinya justru mengenakan busana muslimah. Dan, para panitia pun (termasuk pangarsa/ketua) juga berulang kali mengucapkan istilah “pawiwahan” dalam mengungkapkan maksud pahargyan. Barangkali, mereka menyamakan penafsiran makna kedua istilah tersebut, atau mereka “lupa” karena dianggap bukan hal prinsip secara teknis operasional urutan acara dan urusan menjamu tamu. Atau, bisa jadi, mereka memang belum sampai informasi mengenai kata yang trep/sesuai kondisi atau realitanya. Banyak faktornya.
Jika ditilik dari konteksnya, istilah pawiwahan dan pahargyan jelas berbeda. Setahu saya ketika nyantrik untuk mendapat seserepan dari para dwija serta 'merekam' pendapat para “pana” dalam tatacara adat Jawa, istilah tersebut bukanlah nuansa, melainkan memiliki perbedaan yang jelas. Dari sisi undha-usuking resepsi, istilah seperti pawiwahan, pahargyan, pasamuan, climen dan slentheman.Untuk pawiwahan, memang setara dengan pahargyan, secara kategori jumlah tamu. Namun istilah pawiwahan diterapkan jika “kostum” pengantin adalah basahan. Sedang pahargyan, dikenali dari busana "baju" yang dikenakan pengantin (bukan basahan).
Kemudian, kategori jumlah tamu yang lebih kecil dari pawiwahan dan pahargyan adalah pasamuan. Turun lagi, dengan jumlah tamu undangan yang lebih kecil, yakni climen. Resepsi dengan istilah climen ini hanya mengundang kerabat dan tetangga sekitar. Di bawah climen adalah slentheman, di mana hanya mengundang kerabat serta tokoh masyarakat setempat.
Barangkali istilah tersebut di atas dapat mengingatkan kita kembali ketika kita hendak merancang kepanitiaan resepsi pengantin dengan tatacara adat Jawa. Apalagi untuk para paraga yang mendapat amanah hamicara (seperti atur pasrah, atur panampi, atur pambageharja, terlebih untuk pambiwara), pemakaian istilah yang “trep” / klop sangat berpengaruh terhadap pencitraan dari para tamu undangan. Mengingat, di antara tamu undangan pasti ada satu-dua yang sedikit paham atau pernah mendapat seserepan semacam ini. Paling tidak, kita dapat menularkan kepada generasi berikutnya mengenai pemakaian istilah tersebut. (*)
DALAM acara kumbokarnan (pertemuan para panitia dalam persiapan resepsi perkawinan dengan tatacara adat Jawa ), sang sekretaris membagikan salinan para kridha darma (panitia) beserta rundown-nya sekaligus. Kemudian sang pangarsa (ketua panitia) pun membacakan isi salinan tersebut. Pertanyaan dan saran segera bergulir dari para undangan acara kumbokarnan yang namanya tercantum sebagai panitia. Materi pembicaraan terkait soal teknis pelaksanaan, mulai acara, persiapan konsumsi dan perkiraan tamu, dan sebagainya.
Ada yang menggelitik hati ini sebenarnya ketika saya juga hadir dalam acara tersebut (kebetulan saya didhapuk menjadi panitia untuk atur pambageharja). Namun hanya saya simpan dalam hati dan tidak saya gulirkan di hadapan forum, lantaran tidak terkait persoalan teknis pelaksanaan maupun rundown yang sudah lumayan sempurna. Meski demikian, jika nantinya salinan tersebut ada revisi dan akan diperbanyak kembali untuk dibagikan lagi kepada panitia, pasti saya akan membisiki sang panitera (sekretaris panitia).
Apa sih yang membuat hati ini tergelitik? Tak lain adalah judul rencana penyelenggaraan resepsi tersebut. Dalam judul rantaman itu terdapat kata “pawiwahan” dhauping pengantin. Padahal, kalau melihat rundown-nya, jelas nantinya sang mempelai tidak mengenakan busana basahan, karena pengantin putrinya justru mengenakan busana muslimah. Dan, para panitia pun (termasuk pangarsa/ketua) juga berulang kali mengucapkan istilah “pawiwahan” dalam mengungkapkan maksud pahargyan. Barangkali, mereka menyamakan penafsiran makna kedua istilah tersebut, atau mereka “lupa” karena dianggap bukan hal prinsip secara teknis operasional urutan acara dan urusan menjamu tamu. Atau, bisa jadi, mereka memang belum sampai informasi mengenai kata yang trep/sesuai kondisi atau realitanya. Banyak faktornya.
Jika ditilik dari konteksnya, istilah pawiwahan dan pahargyan jelas berbeda. Setahu saya ketika nyantrik untuk mendapat seserepan dari para dwija serta 'merekam' pendapat para “pana” dalam tatacara adat Jawa, istilah tersebut bukanlah nuansa, melainkan memiliki perbedaan yang jelas. Dari sisi undha-usuking resepsi, istilah seperti pawiwahan, pahargyan, pasamuan, climen dan slentheman.Untuk pawiwahan, memang setara dengan pahargyan, secara kategori jumlah tamu. Namun istilah pawiwahan diterapkan jika “kostum” pengantin adalah basahan. Sedang pahargyan, dikenali dari busana "baju" yang dikenakan pengantin (bukan basahan).
Kemudian, kategori jumlah tamu yang lebih kecil dari pawiwahan dan pahargyan adalah pasamuan. Turun lagi, dengan jumlah tamu undangan yang lebih kecil, yakni climen. Resepsi dengan istilah climen ini hanya mengundang kerabat dan tetangga sekitar. Di bawah climen adalah slentheman, di mana hanya mengundang kerabat serta tokoh masyarakat setempat.
Barangkali istilah tersebut di atas dapat mengingatkan kita kembali ketika kita hendak merancang kepanitiaan resepsi pengantin dengan tatacara adat Jawa. Apalagi untuk para paraga yang mendapat amanah hamicara (seperti atur pasrah, atur panampi, atur pambageharja, terlebih untuk pambiwara), pemakaian istilah yang “trep” / klop sangat berpengaruh terhadap pencitraan dari para tamu undangan. Mengingat, di antara tamu undangan pasti ada satu-dua yang sedikit paham atau pernah mendapat seserepan semacam ini. Paling tidak, kita dapat menularkan kepada generasi berikutnya mengenai pemakaian istilah tersebut. (*)
Tatacara Perhelatan Jawa Kian Memprihatinkan (2-Habis)
Oleh: Iqbal Wahyu Purwito, Pengurus Paguyuban Metri Budaya Jawa MELATHI Surakarta
Perubahan generasi membawa pengaruh bagi perubahan style maupun taste dalam berbagai area. Termasuk di dalamnya adalah perhelatan perkawinan dengan adat Jawa.
Pengantin saat ini mungkin sudah tak begitu suka lagi dengan kentalnya suasana adat atau tradisi perkawinan. Mereka melihat dari kacamata mereka sendiri sebagai generasi yang lahir di era komputer dan segala bentuk teknologi yang makin canggih. Jika mereka menikah, mereka pun sepertinya ingin bebas berekspresi dengan model perhelatan yang akan dilakukan. Mulai prewedding, misalnya setting lokasi dan pose untuk cover undangan, bentuk dan bahan undangan, hingga aneka pernik ubarampe paningset pun telah mereka kreasi, sesuai selera, dan tentu saja kapasitas kantong tabungan yang ada.
Bukan hanya itu. Yang kelihatan lebih ekstrem adalah pemilihan hari perkawinan, sangat “berlawanan” dengan tempo doeloe. Jika dulu orang tua atau mereka yang mengantongi status dituakan akan mencari hari pernikahan (disesuaikan dengan banyak hal), calon pengantin hanya manut saja. Nah, sekarang? Justru calon pengantin yang merancang sendiri hari atau tanggal perkawinan. Calon pengantin generasi kini akan mencari momen yang dianggap punya histori ataupun hal istimewa bagi kedua calon mempelai. Misalnya, momen perkawinan pada tanggal 10 bulan Oktober tahun 2010 (jika ditulis angka menjadi 10-10-’10). Begitu pula dengan angka yang lain, seperti: 8-9-’10; 9-10-’11; 11-11-’11; 10-11-’12, dan sebagainya. Unik memang dan mudah diingat pemilihan tersebut. Mereka tak lagi memedulikan apakah pada momen tersebut secara neptu maupun pasaran klop dalam perhitungan Jawa.
Belum lagi dengan susunan acara, kini sudah merebak fenomena sejumlah “pakem” yang ditiadakan dalam pahargyan atau pawiwahan pengantin. Ambil contoh, dalam pahargyan dhauping panganten (oleh pihak pengantin putri), cara masuk pengantin pun mereka ubah. Yakni, bukan lagi ”pakem” penganten putri mijil lebih dahulu. Melainkan pengantin muncul secara bersama, bahkan disertai rama-ibu dan besan. Nah, kalau ditilik dari sisi “treping tatacara” bakal memicu pertanyaan: apakah ini acara ngundhuh manten (penyelenggara pihak pengantin pria)? Ada lagi. Dalam acara tersebut tidak lagi ada acara pasrah-panampi penganten. Jadi, sudah cara masuknya mirip acara ngundhuh pengantin, mereka juga langsung ndelujur berjalan menuju kursi pelaminan begitu saja. Yang tidak dihilangkan hanya acara pambageharja, mungkin pertimbangan tatacara ini adalah ucapan selamat datang dari penyelenggara/tuan rumah kepada para tamu undangan.
Yang tak kalah lucu adalah pengantin, rama-ibu dan besan berbusana kejawen jangkep, namun pambiwara-nya tidak memakai basa Jawa melainkan bahasa Indonesia. Bahkan, kadang pambiwara-nya di-handle oleh seorang presenter yang biasa menangani show atau event hiburan yang sarat entertain, sehingga bahasanya pun cenderung bahasa gaul dan sangat jauh dari sentuhan formal. Padahal, bukankah perhelatan pengantin itu sebenarnya berbau “sakral” (dalam arti konteks pengantin adalah raja dan ratu sehari, sehingga harus dihormati dan punya aura kewibawaan )? Dan, yang seperti ini kadang kita jumpai si mempelai (apakah pria, wanita, atau malah keduanya) mau saja didaulat oleh presenter yang menjadi MC untuk menyanyi diiringi group band atau solo kibor. Nah! (*)
Perubahan generasi membawa pengaruh bagi perubahan style maupun taste dalam berbagai area. Termasuk di dalamnya adalah perhelatan perkawinan dengan adat Jawa.
Pengantin saat ini mungkin sudah tak begitu suka lagi dengan kentalnya suasana adat atau tradisi perkawinan. Mereka melihat dari kacamata mereka sendiri sebagai generasi yang lahir di era komputer dan segala bentuk teknologi yang makin canggih. Jika mereka menikah, mereka pun sepertinya ingin bebas berekspresi dengan model perhelatan yang akan dilakukan. Mulai prewedding, misalnya setting lokasi dan pose untuk cover undangan, bentuk dan bahan undangan, hingga aneka pernik ubarampe paningset pun telah mereka kreasi, sesuai selera, dan tentu saja kapasitas kantong tabungan yang ada.
Bukan hanya itu. Yang kelihatan lebih ekstrem adalah pemilihan hari perkawinan, sangat “berlawanan” dengan tempo doeloe. Jika dulu orang tua atau mereka yang mengantongi status dituakan akan mencari hari pernikahan (disesuaikan dengan banyak hal), calon pengantin hanya manut saja. Nah, sekarang? Justru calon pengantin yang merancang sendiri hari atau tanggal perkawinan. Calon pengantin generasi kini akan mencari momen yang dianggap punya histori ataupun hal istimewa bagi kedua calon mempelai. Misalnya, momen perkawinan pada tanggal 10 bulan Oktober tahun 2010 (jika ditulis angka menjadi 10-10-’10). Begitu pula dengan angka yang lain, seperti: 8-9-’10; 9-10-’11; 11-11-’11; 10-11-’12, dan sebagainya. Unik memang dan mudah diingat pemilihan tersebut. Mereka tak lagi memedulikan apakah pada momen tersebut secara neptu maupun pasaran klop dalam perhitungan Jawa.
Belum lagi dengan susunan acara, kini sudah merebak fenomena sejumlah “pakem” yang ditiadakan dalam pahargyan atau pawiwahan pengantin. Ambil contoh, dalam pahargyan dhauping panganten (oleh pihak pengantin putri), cara masuk pengantin pun mereka ubah. Yakni, bukan lagi ”pakem” penganten putri mijil lebih dahulu. Melainkan pengantin muncul secara bersama, bahkan disertai rama-ibu dan besan. Nah, kalau ditilik dari sisi “treping tatacara” bakal memicu pertanyaan: apakah ini acara ngundhuh manten (penyelenggara pihak pengantin pria)? Ada lagi. Dalam acara tersebut tidak lagi ada acara pasrah-panampi penganten. Jadi, sudah cara masuknya mirip acara ngundhuh pengantin, mereka juga langsung ndelujur berjalan menuju kursi pelaminan begitu saja. Yang tidak dihilangkan hanya acara pambageharja, mungkin pertimbangan tatacara ini adalah ucapan selamat datang dari penyelenggara/tuan rumah kepada para tamu undangan.
Yang tak kalah lucu adalah pengantin, rama-ibu dan besan berbusana kejawen jangkep, namun pambiwara-nya tidak memakai basa Jawa melainkan bahasa Indonesia. Bahkan, kadang pambiwara-nya di-handle oleh seorang presenter yang biasa menangani show atau event hiburan yang sarat entertain, sehingga bahasanya pun cenderung bahasa gaul dan sangat jauh dari sentuhan formal. Padahal, bukankah perhelatan pengantin itu sebenarnya berbau “sakral” (dalam arti konteks pengantin adalah raja dan ratu sehari, sehingga harus dihormati dan punya aura kewibawaan )? Dan, yang seperti ini kadang kita jumpai si mempelai (apakah pria, wanita, atau malah keduanya) mau saja didaulat oleh presenter yang menjadi MC untuk menyanyi diiringi group band atau solo kibor. Nah! (*)
Pambiwara dan Model Resepsi Perkawinan di Era Digital
Oleh: Iqbal Wahyu Purwito, pengurus Paguyuban Metri Budaya Jawa MELATHI Surakarta
PERNAHKAH Anda mencoba memerhatikan suasana saat menghadiri undangan resepsi perkawinan? Anda merasakan adanya sentuhan atmosfer budaya Jawa? Secara fisik kita bisa melihat ada janur, kembar mayang, maupun dekorasi bersuasana tradisi Jawa. Juga busana yang dikenakan mempelai, kedua orang tua mempelai, maupun para panitia penerima tamu. Bahkan, tatacara perkawinan adat Jawa juga disertakan meski tidak lengkap, seperti adanya pasrah-panampi, panggih, kadang memakai krobongan/kacar-kucur, maupun pangabekten/sungkeman. Suasana beraroma tradisi Jawa juga kian terasa kental dengan lantunan gendhing-gendhing Jawa ataupun beksan/tarian Jawa, serta penggunaan bahasa Jawa dari pambiwara/MC maupun petugas yang melakukan hamicara (pasrah, panampi serta pambageharja). Nah, setelah melihat dan merasakan acara seperti ini, tak jarang sang mempelai maupun para tamu undangan menilai pesta perkawinan ini dihelat secara adat Jawa.
Namun, benarkah itu dilakukan sesuai adat Jawa? Bukankah acara perkawinan dalam adat Jawa banyak tahap-tahap yang merupakan satu rangkaian? Ambil contoh, menjelang hari pelaksanaan perkawinan, calon pengantin putri melakukan puasa maupun laku “adat Jawa”, dengan harapan secara psikis menjadi lebih yakin dan lebih tenang. Inilah sebenarnya inti “laku” dalam budaya Jawa, yakni membangkitkan ketenangan diri karena kepasrahannya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, serta merasa secara fisik sudah siap untuk tampil dan dilihat para tamu undangan. Dengan ketenangan serta kepercayaan diri tadi, inner beauty-nya akan memancar sehingga terlihat lebih memesona. Ini baru sebagian kecil contoh dari rangkaian/tahap bagi calon mempelai.
Ada lagi. Sering kita lihat acara dikemas dalam tatacara Jawa (busana, bahasa, urutan acara), namun penyajian makanan dilakukan secara prasmanan. Bahkan, kadang menerapkan konsep standing party. Tentunya hal semacam ini akan menjadi antiklimaks dari sisi tradisi. Bukankah orang Jawa selalu “nguwongke” (menghargai orang lain), apalagi kepada tamu undangan. Kalau sesuai adat Jawa, tamu dipersilakan duduk nyaman dan urusan hidangan juga dilayani secara “laden” oleh pramusaji atau sinoman.
Masih banyak tentunya hal lain tentang “adat perkawinan Jawa “ yang diterapkan di zaman kini. Namun tulisan saya kali ini tidak akan membahas persoalan tersebut. Saya hanya ingin mencuatkan mengenai eksistensi bahasa Jawa dalam perhelatan resepsi perkawinan di era digital ini. Apa strategi agar bahasa Jawa tetap digunakan di tengah terpaan kreasi dan modifikasi acara resepsi perkawinan di era sekarang? Kuncinya adalah ada pada sikap pambiwara (master of ceremony) beradaptasi dengan perubahan zaman. Artinya, pambiwara harus luwes menyesuaikan keinginan calon mempelai atau orang yang punya hajat, supaya bisa melestarikan bahasa Jawa di tengah masyarakat. Dan, terbukti pambiwara yang luwes/fleksibel, bahkan kreatif, tak pernah khawatir job bakal sirna oleh perubaan zaman. Misalnya, ketika mendapat tawaran menjadi pambiwara untuk acara walimatul ‘urusy /resepsi pernikahan secara islami. Di sini, meski hanya ada acara pambageharja dan kadang mauidhotul hasanah/taushiyah, pambiwara tetap bisa berekspresi dengan bahasa Jawa. Misalnya saat mempelai memasuki ruang majelis (biasanya dipisah antara pria dan wanita, termasuk kedua mempelai), pambiwara bisa memberi isen-isen ataupun panyandra mengenai tatacara walimatul ‘urusy yang syar’i, kemudian maksud dan tujuan dilakukannya acara seperti ini (tentunya disampaikan dengan menyesuaikan situasi dan kondisi serta melihat audiens). Kemasan acara walimatul ’urusy secara islami semacam ini kadang “ditakuti” pambiwara secara umum, padahal sebenarnya justru lebih mudah dan praktis. Barangkali saja ketakutan pambiwara lantaran “kurang bekal” terhadap sejumlah istilah islami, serta doa atau ucapan yang baik untuk mempelai . yang utama adalah penguasaan doa pembuka maupun penutup majelis. Untuk istilah islami, doa maupun ucapan yang baik bagi pengantin serta tamu undangan, lebih bagus dalam bahasa Arab dan dilengkapi terjemahannya, mengingat tamu yang kadang heterogen baik dari sisi agama maupun manhaj audiens.
Bagaimana dengan pambiwara ketika harus membawakan acara resepsi yang dikemas dengan selera modern? Saya ambilkan contoh, ketika busana pengantin dan kedua orang tua memakai kejawen, namun tidak ada acara pasrah-panampi dan panggih. Mempelai dan orang tua kedua mempelai masuk bersamaan dengan iringan musik dari group band ataupun solo keyboard dengan sajian irama non-gendhing. Tidak masalah bagi pambiwara, kalau memanghal tersebut merupakan keinginan pengantin (bisa jadi karena dia seorang pemain band, sehingga melibatkan teman-temannya mengiringi). Pambiwara masih bisa berekspresi ketika mempelai dan kedua orang tua sudah duduk di kursi pelaminan.
Dengan demikian, intinya adalah pambiwara di era modern ini harus fleksibel/luwes, bahkan kreatif. Sebab, tidak menutup kemungkinan di masa mendatang, acara “pakem” dalam resepsi perkawinan adat Jawa bakal kian tak lengkap lagi diterapkan. Artinya, tidak menutup kemungkinan nantinya tahapan-tahapan banyak yang dipangkas diganti kreasi “gila/ekstrem” sesuai usia mempelai di masanya. Bisa jadi pula nantinya hanya mencomot busana Jawa-nya saja karena pertimbangan nilai unik-eksotik, sedang bahasa Jawa tidak lagi diterapkan karena diganti dengan bahasa nasional.
Nah, mengantisipasi agar suasana perkawinan adat Jawa tetap terasa (paling tidak seremonial pakem, seperti pasrah-panampi dan pambageharja) serta bahasa Jawa dalam pambiwara maupun hamicara, maka tugas kita sebagai pelestari budaya adalah membuat nyaman terlebuh dulu dengan bersikap fleksibel. Kemudian secara bertahap melakukan sosialisasi nilai budaya Jawa, tentunya yang sesuai dengan aturan agama maupun kaidah masyarakat. (*solo, februari 2011*)
Namun, benarkah itu dilakukan sesuai adat Jawa? Bukankah acara perkawinan dalam adat Jawa banyak tahap-tahap yang merupakan satu rangkaian? Ambil contoh, menjelang hari pelaksanaan perkawinan, calon pengantin putri melakukan puasa maupun laku “adat Jawa”, dengan harapan secara psikis menjadi lebih yakin dan lebih tenang. Inilah sebenarnya inti “laku” dalam budaya Jawa, yakni membangkitkan ketenangan diri karena kepasrahannya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, serta merasa secara fisik sudah siap untuk tampil dan dilihat para tamu undangan. Dengan ketenangan serta kepercayaan diri tadi, inner beauty-nya akan memancar sehingga terlihat lebih memesona. Ini baru sebagian kecil contoh dari rangkaian/tahap bagi calon mempelai.
Ada lagi. Sering kita lihat acara dikemas dalam tatacara Jawa (busana, bahasa, urutan acara), namun penyajian makanan dilakukan secara prasmanan. Bahkan, kadang menerapkan konsep standing party. Tentunya hal semacam ini akan menjadi antiklimaks dari sisi tradisi. Bukankah orang Jawa selalu “nguwongke” (menghargai orang lain), apalagi kepada tamu undangan. Kalau sesuai adat Jawa, tamu dipersilakan duduk nyaman dan urusan hidangan juga dilayani secara “laden” oleh pramusaji atau sinoman.
Masih banyak tentunya hal lain tentang “adat perkawinan Jawa “ yang diterapkan di zaman kini. Namun tulisan saya kali ini tidak akan membahas persoalan tersebut. Saya hanya ingin mencuatkan mengenai eksistensi bahasa Jawa dalam perhelatan resepsi perkawinan di era digital ini. Apa strategi agar bahasa Jawa tetap digunakan di tengah terpaan kreasi dan modifikasi acara resepsi perkawinan di era sekarang? Kuncinya adalah ada pada sikap pambiwara (master of ceremony) beradaptasi dengan perubahan zaman. Artinya, pambiwara harus luwes menyesuaikan keinginan calon mempelai atau orang yang punya hajat, supaya bisa melestarikan bahasa Jawa di tengah masyarakat. Dan, terbukti pambiwara yang luwes/fleksibel, bahkan kreatif, tak pernah khawatir job bakal sirna oleh perubaan zaman. Misalnya, ketika mendapat tawaran menjadi pambiwara untuk acara walimatul ‘urusy /resepsi pernikahan secara islami. Di sini, meski hanya ada acara pambageharja dan kadang mauidhotul hasanah/taushiyah, pambiwara tetap bisa berekspresi dengan bahasa Jawa. Misalnya saat mempelai memasuki ruang majelis (biasanya dipisah antara pria dan wanita, termasuk kedua mempelai), pambiwara bisa memberi isen-isen ataupun panyandra mengenai tatacara walimatul ‘urusy yang syar’i, kemudian maksud dan tujuan dilakukannya acara seperti ini (tentunya disampaikan dengan menyesuaikan situasi dan kondisi serta melihat audiens). Kemasan acara walimatul ’urusy secara islami semacam ini kadang “ditakuti” pambiwara secara umum, padahal sebenarnya justru lebih mudah dan praktis. Barangkali saja ketakutan pambiwara lantaran “kurang bekal” terhadap sejumlah istilah islami, serta doa atau ucapan yang baik untuk mempelai . yang utama adalah penguasaan doa pembuka maupun penutup majelis. Untuk istilah islami, doa maupun ucapan yang baik bagi pengantin serta tamu undangan, lebih bagus dalam bahasa Arab dan dilengkapi terjemahannya, mengingat tamu yang kadang heterogen baik dari sisi agama maupun manhaj audiens.
Bagaimana dengan pambiwara ketika harus membawakan acara resepsi yang dikemas dengan selera modern? Saya ambilkan contoh, ketika busana pengantin dan kedua orang tua memakai kejawen, namun tidak ada acara pasrah-panampi dan panggih. Mempelai dan orang tua kedua mempelai masuk bersamaan dengan iringan musik dari group band ataupun solo keyboard dengan sajian irama non-gendhing. Tidak masalah bagi pambiwara, kalau memanghal tersebut merupakan keinginan pengantin (bisa jadi karena dia seorang pemain band, sehingga melibatkan teman-temannya mengiringi). Pambiwara masih bisa berekspresi ketika mempelai dan kedua orang tua sudah duduk di kursi pelaminan.
Dengan demikian, intinya adalah pambiwara di era modern ini harus fleksibel/luwes, bahkan kreatif. Sebab, tidak menutup kemungkinan di masa mendatang, acara “pakem” dalam resepsi perkawinan adat Jawa bakal kian tak lengkap lagi diterapkan. Artinya, tidak menutup kemungkinan nantinya tahapan-tahapan banyak yang dipangkas diganti kreasi “gila/ekstrem” sesuai usia mempelai di masanya. Bisa jadi pula nantinya hanya mencomot busana Jawa-nya saja karena pertimbangan nilai unik-eksotik, sedang bahasa Jawa tidak lagi diterapkan karena diganti dengan bahasa nasional.
Nah, mengantisipasi agar suasana perkawinan adat Jawa tetap terasa (paling tidak seremonial pakem, seperti pasrah-panampi dan pambageharja) serta bahasa Jawa dalam pambiwara maupun hamicara, maka tugas kita sebagai pelestari budaya adalah membuat nyaman terlebuh dulu dengan bersikap fleksibel. Kemudian secara bertahap melakukan sosialisasi nilai budaya Jawa, tentunya yang sesuai dengan aturan agama maupun kaidah masyarakat. (*solo, februari 2011*)
Wajib Basa Jawi Saben Jum'at
Dening: Iqbal Wahyu Purwito, Pengurus Paguyuban Metri Budaya Jawa Melathi Surakarta
WIWIT 19 Februari 2010 kepengker, Pemkot Solo sampun majibaken sedaya satuan kerja perangkat daerah (SKPD) ing wewengkon instansi pamarentah punika ngginakaken Basa Jawi saben dinten Jumat. Bab punika kawedharaken Wali Kota Solo Joko Widodo nalika pengetan ambal warsa Kitha Solo ingkang kaping 265. Sanajan ing dinten tertemtu (Jumat) punika wonten rapat koordinasi (rakor) utawi forum resmi sanesipun, kedah migunakaken Basa Jawi. Namung ing babagan seratan dhines kemawon ingkang tetep migunakaken basa nasional (Indonesia).
Menawi kula lan panjenengan sedaya kersa ngungak malih asil Kongres Basa Jawa (KBJ) IV nalika 10-14 September 2006 kepengker, ing Semarang, kawiyak bilih Basa Jawi pinangka sarana pasrawungan, pranyata gadhah panutur ingkang cacahipun 80 yuta langkung. Kajawi punika, Basa Jawi mujudaken salah satunggaling ”basa ibu” ingkang ageng ing donya. Basa Jawi mlebet urutan kaping 11 (sewelas) saking ewonan basa ing ndonya. Kaanan punika nedahaken bilih Basa Jawi taksih gadhah daya, mboten pupus ing pangajab saged ngrembaka. Salah satunggaling daya panjurung, inggih taksih dipunginakaken basa punika tumrap tiyang Jawi wonten ing pasrawungan.
Lumantar kawicakan punika, Pemkot Solo ngajab murih lestarinipun Basa Jawi. Awit ing kasunyatan, kepara kathah tiyang Jawi piyambak ingkang mboten saged migunakaken basanipun, mliginipun basa krama. Menawi kula lan panjenengan sedaya kersa mawas, wonten ing kulawarga kemawon asring pirembagan migunakaken basa nasional (Indonesia). Malah kepara mboten sekedhik ing griya lare pirembagan mawi basa manca, awit wonten ing sekolahan sak punika sampun dipun wulangaken basa Inggris, Arab, Mandarin lan sapanunggalanipun. Nalika mrangguli lare pirembagan mawi basa manca kalawau, tiyang sepuhipun malah mongkog lan bombong, mastani larenipun lantip anggenipun nyerep basa manca ing sekolahan.
Kanthi patuladhan wajib migunakaken Basa Jawi saben Jumat ing wewengkon Pemkot Solo, sayektosipun kula lan panjenengan sedaya kepara ngundhuh paedah ingkang ageng. Ing antawisipun, pinangka tiyang Jawi ingkang gesang ing alam modheren, sekedhik mbaka sekedhik badhe tuwuh krenteg malih memetri Basa Jawi. Ing tembe kaajab saged ngetrepaken kanthi mulat wonten ing salebeting pirembagan, wiwit trep-trepan krama andhap, krama madya, dumugi krama inggil. Punika kathah sanget mupangatipun ing madyaning pasrawungan, mliginipun ing bab tatakrama. Awit unggah-ungguhing basa krama ngandhut panuntun luhur, kados dene andhap asor, mboten nilar ing pakewuh, nebihaken panyendhu, lan sakathahing panuntun luhur sanesipun ing budaya Jawi. Pangendika SISKS Pakoe Boewono Kaping X: Rum kuncaraning bangsa dumunung haneng luhuring budaya.
Menawi kedah migunakaken Basa Jawi, lajeng kados pundi tumrap pegawe punapadene warganing masyarakat ingkang paring Ian nyuwun pelayanan, kamangka boten sedaya tiyang Jawi? Punapa mboten malah nuwuhaken ribet lan keconthalan? Kawitan temtunipun pancen mekaten. Ananging menawi dipungalih saha dipunraos kanthi wening, satemah kepara dados sarana anggenipun nyinau budaya Jawi (lumantar Basa Jawi), mumpung taksih wonten ing laladan Jawi. Kaanan punika mboten beneh nalika kula lan panjenengan ngangsu kawruh utawi makarya ing nagari manca. Temtunipun ugi kedah nyinau basa manca kalawau kagem kaperluwan ing pasrawungan.
Pangajab, mugi punapa ingkang sampun kawedharaken Wali Kota Solo Joko Widodo bab kuwajiban migunakaken Basa Jawi kalawau, sampun ngantos asipat formalistik kemawon. Kedah wonten panyengkuyung sanesipun, satemah mboten kandheg ing tengah margi. Panyengkuyung punika kados dene jatah pamulangan Basa Jawi ing sekolah-sekolah ingkang taksih kirang. Ugi sarana mekaraken budaya Jawi (kalebet Basa Jawi) ingkang saged kawastanan taksih dereng murakabi awit dana lumantar APBD kirang murwat. Pamarentah lumantar instansi ingkang raket sesambetanipun kaliyan babagan budaya, ugi taksih kirang grengseng ngawontenaken maneka andon wasis bab Basa Jawi. Kamangka, ing saindhenging Kitha Solo punika mboten sekedhik paguyuban ingkang mersudi budaya lan basa Jawi. Saged kawastanan bilih para pamerdi kalawau pinangka dados “aset budaya” tumrap Pemkot Solo. (*)
Budaya Jawi Minangka Lelandhesan Hambangun Kitha Solo
(Dening: Muhammad Iqbal SSos)Kula nuwun,
Sih wilasa saha berkahing Gusti Allah Ingkang Maha Mirah, mugi tansah kapatedhakaken dhumateng panjenengan, sumrambah ing sadayanipun.
Ing titi kalenggahan punika, kepareng kula badhe ngandharaken punapa ingkang dados irah-irahan atur kula wonten ing Andon Wasis Sesorah Basa Jawi magepokan kaliyan mangayubaya ambal warsa Kitha Solo ingkang kaping 265. Wondene irah-irahan kula bab Budaya Jawi Minangka Lelandhesan Hambangun Kitha Solo.
Kados ingkang sampun kawuningan, bilih ing surya kaping 17 Februari 2010 mangke, kaleres pengetan ambal warsa Kitha Solo ingkang kaping 265. Kathah prastawa ingkang sampun kaserat ing sujarah magepokan Kitha Solo. Kalebet maneka sesebatan tumrap kitha punika, kados dene Solo Kitha Plesir ngantos dumugi pasemon bilih Solo punika kawastanan kitha asumbu cekak. Lan sak punika wonten malih sesebatan ingkang damel reseping panggalih, bilih Solo minangka kitha ingkang tansah ngolah budi lair batin, ingkang pakartinipun titah manungsa ingkang linambaran lair batin lan lumampah sesarengan. Sampun kasumurupan bilih woh pangolahing budi punika ingkang ateges budaya, mliginipun inggih Budaya Jawi.
Lajeng, kenging punapa hambangun Kitha Solo prayoginipun kanthi lelandhesan Budaya Jawi? Mboten sanes awit Budaya Jawi punika adiluhung. Kanthi lelandhesan Budaya Jawi, tumrap pangembaning praja anggenipun mranata saha hambangun kitha tansah kairing weninging manah lan panggalih, sareh, setiti, tansah nulad kawontenaning para warga, saha ngaosi lan hamomong sinten kemawon, mliginipun kawula alit. Para kadang sumitra ingkang tansah satuhu winengku ing luhuring budi,
Sumangga kula dherekaken ngemut malih. prastawa nalika para PKL (Pedagang Kaki Lima) boyong saking Monumen 45 Banjarsari sawetawis taun kepengker. Mboten wonten ontran-ontran. Sadaya lumampah kanthi wilujeng tanpa pambeng, rahayu tanpa reridu. Para kadang PKL kalawau kanthi legawa ngestokaken pangajab saha dhawuhing praja. Awit, pamarentah anggenipun mersudi tansah adhedhasar luhuring budi, jejer minangka pamomong. Kajawi lumantar kembul bojana klawan wawan rembag kaliyan para PKL watawis 7 wulan dangunipun, nalika boyong para PKL ugi dipun kurmati kanthi kairing para prajurit Karaton Surakarta Hadiningrat. Satemah, kajawi legawa, para PKL ugi rumaos bombong lan mongkog.
Punika kalawau salah satunggaling tuladha, bilih Budaya Jawi ngemu piwucal ingkang ageng. Pramila, prayoginipun tansah kaagem minangka lelandhesan lair batin wonten ing madyaning bebrayan, kalebet wonten ing kawicaksanan hambangun Kitha Solo. Lumantar budaya ingkang adiluhung punika, sadaya saged mangertos jejeripun piyambak. Tumrap para pangembaning praja, inggih mboten lajeng kemratu. Kepara sageda ngetrepaken jejer minangka pamomong, ingkang tansah hangayomi saha manggalih kawulanipun murih langkung tentrem lan raharja. Semanten ugi para kawula, saged nulad jejeripun, satemah mboten murang ing trapsila saha subasita.
Sampun kasunyatan bilih kanthi bebrayan ingkang adhedasar budi lan pakarti utami saking pangembaning praja kaliyan warga, Kitha Solo saged akas anggenipun hanggayuh kemajengan. Tundhonipun, Solo nampi maneka nugraha. Kados dene MICE Award (Meeting, Incentive,Conference and Exhibition) saha ITA (Indonesia Tourism Award) tahun 2009 kepengker, kekalihipun magepokan Solo ingkang kasil ngrembakakaken industri pariwisata. Dene ing tahun 2010, surya kaping 12 Februari kepengker, Pemkot Solo nampi nugraha saking Presiden RI awujud Citra Pelopor Inovasi Pelayanan Prima. Maneka nugraha kalawau saged lestari lan mboten badhe muspra manawi budaya kalawau tansah dipun ugemi sadaya kawula saha pangembaning praja.
Makaten andharan kula magepokan kaliyan pengetan ambal warsa Kitha Solo ingkang kaping 265. Kula nglenggana, kathah kekirangan saha kalepatan anggen kula matur, langkung-langkung menggahing trapsila basa krami. Awit saking punika, kepareng kula hanyenyadhang lumubering samodra pangapunten.
Nuwun, matur nuwun.
Bathik, Pusaka Donya Asli Indonesia
Dening: Iqbal Wahyu Purwito
Pengurus Paguyuban Metri Budhaya Jawa Melathi Surakarta
NALIKA mratinjo wewengkon ingkang katrajang lindhu ing Sumatera Barat, 2 Oktober kepengker, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mratelakaken pawadan bab bathik ingkang dipun agem. Presiden ngandharaken bilih 2 Oktober 2009 minangka Dinten Bathik. Andharan Presiden SBY punika jumbuh kaliyan putusan United National Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) ingkang netepaken bathik minangka warisan pusaka donya (world heritage) ingkang asumber saking Indonesia. Tumrap bangsa Indonesia, putusan UNESCO punika saged kawastanan anugerah Gusti Allah ingkang damel bombonging panggalih. Awit pamarentah RI sampun dangu kanthi mboten kendhat anggenipun mbudidaya mbiwarakaken ing laladan internasional bilih bathik punika estu warisan kultural adiluhung asli Indonesia. Prelu kawuningan, magepokan kaliyan bathik, sawetawis nagari manca pranyata kumecer damel bathik. Kalebet Malaysia, ingkang kepara sampun ancang-ancang wiwit tahun 2004 nedya dados minangka nagari punjering bathik internasional. Murih gegayuhan punika saged enggal kawujud, Malaysia mboyong pengrajin-pengrajin bathik tulis saling tlatah Ngayogjakarta. Para pengrajin kalawau lajeng kadhapuk minangka instruktur produksi bathik.
Bathik panci mancaraken daya pencut ingkang ageng. Cakrikipun ingkang khas ketingal eksotik. Awit saking punika kathah ingkang kasengsem, kalebet tiyang saking manca. Kajawi punika bathik pranyata fesyenabel, saged dipun trepaken model punapa kemawon, saha luwes dipun kombinasi kaliyan bahan sanesipun. Pramila ing jaman sak punika, motif bathik saged sumrambah kaagem ing maneka swasana lan papan. Wiwit ing pasamuwan, acara resmi, kesripahan, utawi ageman padintenan. Bathik ugi ketingal sampun limrah kaagem ing papan pedamelan utawi kantor, hotel, mal, lan sanes-sanesipun. Kawontenan kados makaten punika benten sanget kaliyan rikala kula taksih alit. Kala semanten bathik namung kaagem ing swasana saha papan tinamtu, umumipun nalika jagong ing pasamuwan utawi ngrawuhi acara resmi. Pramila kala semanten manawi kaleresan panjenengan tindak ing griyanipun rencang kanthi ageman mawi motif bathik, mboten nggumunaken manawi rencang lajeng moyoki: “Badhe jagong dhateng pundi?”
Gegayutan kaliyan putusan UNESCO kados kasebat ing seratan nginggil kalawau, prayoginipun bangsa Indonesia tansah ngleluri bathik. Langkung-langkung tumrap pabarayan Jawa, ingkang sampun kawentar kanthi bathik tulisipun. Sampun ngantos kaprigelan pengrajin bathik tulis kandheg ing generasi sak punika kemawon. Putra-wayah dalah keturunan sak mangke ugi kedah saged hamarisi bathik minangka pusaka donya punika. Budi dayanipun maneka cara, antawisipun kanthi asring nyrawungaken lare bab bathik. Wujudipun inggih kanthi ageman bathik, saged awujud ageman utawi sinjang, utawi maneka kerajinan ingkang migunakaken motif bathik. Ugi kersoa paring kawruh sujarah bathik, maneka motifipun, kalebet naminipun ingkang ngemu pralambang (simbolis) pandonga utawi panyuwunan, kados dene Sido Mukti, Sido Luhur, lan sak panunggalanipun. Kajawi punika, lare-lare prayoginipun ugi dipun tepungaken sarana ningali proses produksi bathik tulis. Ing pangajab, generasi sak mangke saged mangertos kados pundi njlimetipun damel bathik tulis, wiwit saking ngeblat pola, kaprigelan migunakaken canthing nalika mbathik, ngantos dumugi proses mbabar.
Kanthi ngleluri bathik,ugi saged nuwuhaken krenteg saha raos handarbeni pusaka budaya ingkang adiluhung. Sampun ngantos kanugrahan awujud putusan UNESCO punika kalawau namung kandheg dados raos bombong, kasubya dados eforia/obor blarak ananging keturunan kula lan panjenengan sak mangke sagedipun namung ngagem bathik ingkang dipun damel tiyang manca. (*)
Tatacara Perhelatan Jawa Kian Memprihatinkan (Bagian-1)
Di era serba-digital sekarang, banyak orang Jawa dari generasi terkini yang sudah tak lagi bersemangat untuk mendalami budaya Jawa. Contoh mudah adalah kemampuan berbahasa Jawa, khususnya bahasa pragmatik dalam even atau perhelatan yang kerap digunakan oleh seorang Pambiwara (master of ceremony). Umumnya kalangan muda banyak yang "merasa sulit" lebih dulu sebelum memelajari bahasa pambiwara. Akibatnya, ketika mereka hendak punya gawe misalnya even pernikahan, mereka menempuh langkah instan. Seperti menyerahkan kepada orang-orang tua untuk membikin pratelan tatacara dan paraga (penyusunan acara dan pembentukan panitia). Atau, mereka pun menyerahkan urusan ini sepenuhnya kepada pihak event organizer (EO) atau wedding organizer (WO).
Nah, alternatif terakhir tadi (even pernikahan tradisional diserahkan kepada WO/EO) kadang sering bikin rancu tatacara pernikahan adat Jawa. Bayangkan, mulai busana yang dikenakan hingga beberapa tatacara tradisional Jawa seperti panggih maupun sungkeman diterapkan, namun "ruh" Jawa-nya sudah tak ada. Sungguh menggelikan, ketika menghadiri acara pernikahan yang "menggunakan" kemasan tatacara adat Jawa, namun ketika masuk sesi pasugatan (hidangan, Red) menerapkan cara standing party. Begitu pula dengan nuansa musiknya, sudah tak lagi beratmosfer Jawa. Pasalnya, gendhing-gendhing pahargyan atau pasamuwan hanya ketika sesi panggih, sungkeman serta usai atur pambageharjo saja. Selebihnya, telah didominasi alunan musik elektronik dari kibor, bahkan combo maupun big band. Jenis musiknya pun beragam, tergantung kelas dan selera yang punya hajat. Ada yang campursari, keroncong, pop hingga alunan yang sarat nada-nada jazzy. (javanese.kontemplasi.5 feb'10)















